<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-18232206</id><updated>2011-11-27T16:40:12.207-08:00</updated><title type='text'>Kali Ciliwung</title><subtitle type='html'>Saya rindu Kali Ciliwung yang bersih nan bening</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ucokdm</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18232206.post-4945058049590560236</id><published>2007-10-31T06:54:00.000-07:00</published><updated>2007-10-31T07:04:30.984-07:00</updated><title type='text'>Jakarta Under Water</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;Upaya penanggulangan banjir Jakarta hampir seusia sejarah kota itu sendiri. Selalu tertatih-tatih dalam pelaksanaannya. Proyek Banjir Kanal Timur mesti didukung penataan daerah hulu dan ketersediaan daerah resapan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah suasana banjir Jakarta yang mencekam, juga menjengkelkan, akhir pekan lalu, sebaris pesan singkat (SMS) beredar di kalangan pemakai telepon genggam: ''Jakarta telah sukses menyelenggarakan SEA GAMES dadakan.'' Rupanya, dalam suasana serba kesal dan panik itu, masih ada yang sempat melempar humor pelesetan. Hiruk-pikuk orang bersiasat menghadapi limpasan air hujan yang meluap, membentuk genangan luas bagaikan laut, itulah yang disebut ''sea games''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesan yang agak bernada sinis, tapi tak kehilangan rasa humor. Sikap itu seolah mewakili cara sebagian warga Jakarta memandang bencana yang menyergapnya. Kesulitan yang dialami disikapi secara datar saja. Tidak ada emosi yang meletup berlebihan. Mereka menerimanya sebagai ''sesuatu yang biasa''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja sikap Sonny Wiryawan, 39 tahun, seorang manajer madya di sebuah bank swasta besar yang tinggal di permukiman elite Kelapa Gading. Saat air mulai merambat naik menyusup ke dalam rumahnya, ia sigap memboyong istri dan tiga anaknya ke sebuah hotel bintang empat di kawasan Pancoran, Kamis malam pekan lalu. Ketika kembali ke Kelapa Gading, dengan segala perjuangan selama lima jam, ia kaget. Air sudah menggenang sedada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan susah payah, Sonny bisa mencapai rumahnya. Lalu lompat ke teras loteng dan memecahkan kaca jendela untuk masuk. Selama dua hari ia bertapa sendirian, membaca novel dengan lampu baterai, karena aliran listrik putus, di lantai dua. ''Habis, mau apa lagi?'' katanya datar. Ia tak mau ambil risiko meninggalkan rumahnya di tengah isu penjarahan. ''Saya tidur-tiduran saja sambil menunggu air surut,'' ujarnya, Senin lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dibilang, sebagian besar warga Jakarta memang terbiasa menyambut air bah itu seperti menyongsong ritual lima tahunan. Mereka cenderung nerimo saja, tanpa mencari-cari kambing hitam. Tetapi, untuk nasib Jakarta ke depan, sikap ini justru merisaukan. Bisa-bisa melenakan akan bahaya banjir-banjir mendatang, yang dari tahun ke tahun tampaknya semakin ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, selama tujuh tahun bermukim di Kelapa Gading, baru sekali ini Sonny diteror banjir sedada di rumahnya. Pada musibah banjir Februari 2002, air cuma masuk selutut. Dalam kasus ini pula, lorong underpass Dukuh Atas, yang melintang di bawah Jalan Sudirman, bisa memberi kesaksian tentang fenomena banjir yang makin mencemaskan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada banjir Februari 1996, ketinggian air masih sepinggang orang dewasa. Lantas, pada 2002, genangan air bah menyisakan ruang sekitar satu meter dari bibir atas terowongan. Sedangkan pada banjir kali ini, luapan air hampir menyumpal seluruh ruang terowongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, hingga kini belum ada angka resmi ihwal luas areal genangan banjir di Jakarta pada puncak hujan, akhir pekan lalu. Ada yang menyebut 60%, bahkan 70%, dari total 661 kilometer persegi wilayah DKI. Namun setidaknya, genangan kali ini jauh melampaui luas musibah pada 2002 yang diperkirakan ''hanya'' 24%. Lagi pula, amukan banjir 2007 ini melanda Tangerang, Bekasi, dan Karawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang turun di awal Februari 2007 itu memang teramat spesial. Pada puncak peristiwa Sabtu pekan lalu, menurut catatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), jeluk hujan di kawasan Bogor mencapai 245 mm. Itu 24 jam saja. Angka ini jauh melampaui ''prestasi'' hujan pada awal Februari 2002, yang mencatat rekor 200 mm. Tak mengherankan bila banjir kiriman pun mengalir deras melalui Kali Ciliwung, Cisadane, Sunter, Cipinang, dan Kali Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, curah hujan di dalam kota Jakarta sendiri tak kalah hebat. Masih merujuk data BMG, di Jakarta Pusat hari itu curah hujan mencapai 230 mm. Bahkan di daerah Cileduk, perbatasan DKI dengan Tangerang, curah hujan hari itu mencapai 339 mm per hari. ''Ini curah hujan tertinggi di Cileduk dalam kurun 40 tahun terakhir,'' kata Ahmad Zakir, Kepala Sub-Bidang Informasi Meteorologi Publik. Sekadar untuk diketahui, curah hujan di atas 100 mm per hari masuk kategori sangat lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, guyuran hujan sangat lebat ini dihadapi oleh kawasan yang kapasitas serapan airnya semakin hari kian payah. Dulu, menurut Bambang Warsito, Kepala Staf Perencanaan Pengembangan Wilayah Ciliwung-Cisadane, Departemen Pekerjaan Umum (PU), dari setiap 100 mm air hujan yang jatuh di Jakarta, sekitar 40 mm terserap ke dalam tanah. Air limpasan 60 mm saja. Kini, yang terserap paling banyak hanya 15 mm alias 15%. Air limpasan pun makin menggila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terjadi karena daerah terbuka di Jakarta merosot dari tahun ke tahun. Ruang terbuka hijau (RTH), yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air, dengan cepat terdesak oleh arus pembangunan fisik. Data Wahana Lingkungan Hidup menunjukkan, tahun 1985 Jakarta masih memiliki RTH seluas 29%. Angka itu turun menjadi 25% pada 1995. Bahkan, mulai tahun 2000, angka RTH ini terjun bebas hingga tersisa 9,4% saja. Jauh dari kondisi ideal minimum yang 27,5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di hulu sama runyamnya. Pada 1992, kawasan yang terbangun (untuk permukiman, wisata, infrastruktur jalan, dan keperluan lain) masih sekitar 101.000 hektare. Tahun 2006, wilayah ini mekar menjadi 225.000 hektare. Pada saat yang sama, kawasan bervegetasi merosot dari 665.000 hektare ke angka 541.000 hektare. Jelas, dari segi tata air, kapasitas daerah ini sudah tak memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banjir dan kota Jakarta seolah tidak bisa terpisahkan dalam sejarahnya. Jakarta, dulu Batavia, dan sebelumnya lagi Jayakarta, terletak di bibir teluk yang tenang di kawasan berawa yang rendah. Muara Kali Ciliwung menjadi pusat Batavia dulu, empat abad silam. Dari abad ke abad, Batavia pun tumbuh menjadi Jakarta, yang bertumpu di dataran rendah dengan sejumlah sungai di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari daerah Puncak mengalir Sungai Ciliwung sepanjang sekitar 60 kilometer. Di sebelah timur ada Sungai Cakung, Jati Kramat, Buaran Sunter, dan Cipinang, yang panjang badannya tidak lebih dari 30 kilometer. Di pusat dan barat ada Sungai Cideng, Krukut, Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan, juga Angke, yang berhulu di selatan Jakarta, 20-30 kilometer dari pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pendek, pada musim banjir, sungai-sungai itu bisa menggila. Jika mengamuk, debit Kali Angke, misalnya, bisa mencapai 160 meter kubik per detik. Ciliwung bisa mengalirkan 250 meter kubik per detik. Sedangkan Kali Sunter 120 meter kubik per detik. Curah hujan yang tinggi adalah satu-satunya penyebab amukan sungai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, beberapa kali banjir besar melanda kota Jakarta dan merenggut korban jiwa serta harta penduduk. Antara lain pada 1621, 1654, dan 1918, semasa pemerintahan kolonial Belanda. Pada era pasca-kemerdekaan, amukan bah menerjang tahun 1976, 1996, 2002, dan terakhir tahun 2007 ini, yang mengakibatkan korban jiwa 29 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan banjir ini memiliki pola waktu yang sama, yakni jatuh di awal tahun. Utamanya Januari hingga awal Februari. Pada kedua bulan pembuka ini, curah hujan mencapai angka tertinggi. Hal ini tampak pada rekaman data curah hujan pantauan Stasiun Meteorologi 745, Kemayoran, satu dari enam stasiun di Jabotabek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musibah banjir 2002, menurut penuturan Nuraeni, Kepala Stasiun Meteorologi Kemayoran, kepada Hatim Ilwan dari Gatra, curah hujan bulan Desember 2001 tercatat 116 mm. Lantas melonjak menjadi 695 mm sepanjang Januari, dan bertahan di angka 634 mm pada Februari. Kemudian kembali anjlok pada bulan Maret hingga 306,3 mm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riwayat banjir ini juga jelas terlihat, dari zaman ke zaman frekuensi kedatangannya semakin kerap. Pada zaman kolonial Belanda frekuensinya pada kisaran 20 tahun, berikutnya menjadi per 10 tahun, dan kini lima tahunan. Perilaku ini tak lepas dari perubahan iklim global dan tata lingkungan Jakarta serta daerah-daerah penyangga di sebelah selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah ''nasib'' Jakarta tak terpisahkan dari luapan banjir, penanggulangannya pun berlangsung sejak zaman baheula. Paling tidak, pada 1854 telah berdiri badan khusus yang bertugas mengurusi banjir, yakni Burgelijke Openbare Werken atau disingkat BOW, cikal bakal Departemen PU, yang sekarang bernama Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, instansi itu tak berkutik menghadapi perilaku sungai-sungai tropis yang variasi debitnya begitu tinggi. Debit Ciliwung, misalnya, di musim kemarau hanya 1-2 meter kubik per detik. Puncaknya terjadi pada 1873, ketika hampir seluruh kota Batavia terendam hingga satu meter. Sebagai sindiran kegagalan ini, warga memelesetkan BOW menjadi Batavia Onder Water.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pada 1920 muncul konsep penanggulangan banjir yang komplet dari tim yang dipimpin Prof. H. van Breen. Konsep ini lahir setelah Jakarta dilanda banjir hebat pada 1918. Saat itu, Van Breen memperkenalkan konsep pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta. Selain itu, Breen juga menyarankan penimbunan daerah-daerah rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Van Breen menyarankan ada saluran kolektor di pinggiran selatan kota untuk menampung limpahan air, dan selanjutnya dialirkan ke laut menyusuri tepian barat kota. Ini ditujukan untuk membelokkan aliran air, sehingga tidak langsung menerjang pusat kota. Saluran kolektor yang mulai dibangun pada 1922 ini di kemudian hari dikenal sebagai Banjir Kanal Barat (BKB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai buatan itu dibangun mulai dari titik aliran Sungai Ciliwung di Manggarai, kemudian membelok ke barat memotong Sungai Cideng, Sungai Krukut, Sungai Grogol, terus ke Muara Angke. Untuk mengatur debit aliran ke dalam kota, BKB dilengkapi beberapa pintu air. Ada Pintu Air Manggarai untuk mengatur debit Sungai Ciliwung menuju kota dan Pintu Air Karet untuk mengatur aliran Kali Krukut dan Kali Cideng yang menuju Kali Angke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek penanggulangan banjir Breen itu cukup tangguh, setidaknya untuk kurun 40 tahun. Selama waktu itu, bisa dibilang Jakarta bebas dari banjir dahsyat. Namun, setelah era kemerdekaan, beban Jakarta makin berat. Permukiman menjamur, terutama di kawasan timur dan selatan yang berada di luar jangkauan BKB. Sejak itulah, Jakarta kembali selalu terancam banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah RI pun lantas membentuk Komando Proyek Pencegahan Banjir DKI Jakarta atau disingkat Kopro Banjir pada Februari 1965. Karena keterbatasan dana, Kopro Banjir hanya bisa sedikit mengembangkan konsep Breen. Mereka lebih memfokuskan pada pembangunan sistem polder yang dikombinasikan dengan waduk dan pompanisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kerja mereka antara lain Waduk Setia Budi, Waduk Pluit, Waduk Tomang, dan Waduk Grogol. Ada juga Polder Melati, Polder Pluit, Polder Grogol, Polder Setia Budi Barat dan Timur. Kopro juga mengerjakan pembuatan sodetan Kali Grogol, Kali Pesanggrahan, dan gorong-gorong Jalan Sudirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya lebih serius berlangsung ketika Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ketika itu, lahir Master Plan Pengendalian Banjir yang disahkan pada 1973 --karena itu, lebih dikenal sebagai Master Plan 1973. Konsep Breen masih menjadi acuan. Dalam Master Plan 1973 ini tertuang langkah menambah saluran BKB ke arah barat, yang kini dikenal sebagai Cengkareng Drain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang paling penting dari Master Plan 1973 adalah rencana pembuatan saluran kolektor di sebelah timur atau Banjir Kanal Timur (BKT). Saluran BKT rencananya dibangun memotong Sungai Cipinang, Sunter, Buaran, dan Cakung. Seluruh aliran empat sungai itu akan ditampung di BKT, untuk kemudian dibuang ke ke laut melalui daerah Marunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lagi-lagi, ketidakadaan dana membuat proyek BKT tak kunjung terwujud. Baru pada 10 Juli 2003, setahun setelah banjir hebat 2002, proyek BKT dicanangkan dan ditargetkan bisa rampung tahun 2010. Proyek yang saat itu diperkirakan menelan biaya Rp 4,124 trilyun ini akan membentang sepanjang 23,5 kilometer. Rata-rata lebar sungai sekitar 100 meter, dengan kedalaman tiga meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar anggaran itu, yakni Rp 2,186 trilyun, untuk pembebasan lahan. Dalam tahap pelaksanaannya, lagi-lagi proyek strategis ini terbentur kendala. Terutama oleh perkara pembebasan tanah, yang sebagian besar dimiliki warga dan pihak swasta. Di beberapa tempat sering terjadi tumpang tindih penguasaan lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah menetapkannya berdasarkan nilai jual objek pajak, rata-rata Rp 500.000 per meter persegi. Tetapi, bagi warga, harga itu terlalu rendah. Proses pembebasan pun terganjal. Hingga kini, proyek BKT baru merangkak sepanjang 7,7 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kendala inilah yang membuat banyak pihak pesimistis atas skema pembangunan BKT. Malah beberapa pakar tata kota memandang, BKT bakal tidak bisa menjawab ancaman banjir pada masa mendatang. Apalagi proyek ini --kalau lancar-- kelar tahun 2010, ketika kondisi Jakarta dan daerah penyangganya sudah banyak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Planolog Abdul Alim Alam berpendapat, banjir kanal sebetulnya hanya berperan memperlancar aliran sungai ke laut. Selain itu, juga membelokkan air menyusuri pinggiran hingga tak langsung menuju pusat kota. Tetapi daya tambung banjir kanal sangat terbatas pada volume yang masuk dari arah hulu. ''Apakah semua bisa tertampung,'' katanya kepada Mukhlison S. Widodo dari Gatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, menurut Abdul Alim, yang tak kalah penting adalah membuat agar air bisa sebanyak-banyaknya terserap ke dalam tanah. Bukan mengalir di permukaan. Kondisi ini bisa terjadi bila di daerah hulu atau selatan Jakarta memperluas areal RTH. Celakanya, yang terjadi justru sebaliknya. Lahan tangkapan air itu terus menyusut, tersudut oleh pembangunan, baik di Puncak, Bogor, maupun Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluar lainnya pernah diusulkan konsultan dari Prancis dan Jepang. Intinya, keduanya menyarankan, untuk meredam banjir, perlu dibangun sejumlah reservoar yang bisa menampung sementara aliran air. Selain itu, direkomendasikan untuk merevitalisasi situ-situ yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rencana itu pun tinggal sebagai wacana. Rencana pembangunan Bendung Depok, misalnya, bukannya terlaksana. Walau sudah dilakukan studi kelayakan, kini yang terjadi, di atas rencana areal bendungan itu terhampar perumahan elite. Nasib serupa menimpa situ-situ yang pernah ada, yang diperkirakan mencapai 200-an. Kondisinya sungguh menyedihkan. Sebagian sudah menghilang, berubah menjadi daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kondisi lingkungan ini terus dibiarkan dan semakin parah, maka lelucon ''Jakarta sukses menyelenggarakan SEA GAMES dadakan'' bisa terus berulang. Bahkan mungkin saja setiap tahun. &lt;b&gt;Hidayat Gunadi&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:black;"&gt;Majalah Gatra - 08-14 Februari 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18232206-4945058049590560236?l=kaliciliwung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/feeds/4945058049590560236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18232206&amp;postID=4945058049590560236' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default/4945058049590560236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default/4945058049590560236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/2007/10/jakarta-under-water.html' title='Jakarta Under Water'/><author><name>ucokdm</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18232206.post-6559559287983100502</id><published>2007-09-24T06:54:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T07:01:32.939-07:00</updated><title type='text'>Ciliwung Jadi Water Way</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wah…. Di jakarta sekarang ada transportasi baru loh selain Busway, sekarang udah ada transportasi Waterway yang rutenya Halimun-Dukuh Atas-karet menyusuri sungai ciliwung. Yah meskipun bagus tapi gw pengen ketawa ngeliatnya. lo bayangin aja deh bagai mana kotornya sungai &lt;span class="hilite"&gt;ciliwung&lt;/span&gt; dan berbagai tetek bengek yang mengapung &lt;span class="hilite"&gt;di&lt;/span&gt; atasnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Penumpang :&lt;/strong&gt; …….. (*lagi naek waterway, terus buka jendela ngeliat keluar jendela)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;penumpang :&lt;/strong&gt; WAAAAKKKSSSSS &lt;span class="caps"&gt;TOKAI NGAMBAAAAAANG&lt;/span&gt;&lt;img src="http://robotopbalz.blogsome.com/2007/06/06/water-way/%21" alt="" border="0" /&gt;&lt;img src="http://robotopbalz.blogsome.com/2007/06/06/water-way/%21" alt="" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;penumpang :&lt;/strong&gt; Gubrag&lt;img src="http://robotopbalz.blogsome.com/2007/06/06/water-way/%21" alt="" border="0" /&gt;! (*pingsan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Itu baru masalah yang ngambang2 di sungai &lt;span class="hilite"&gt;ciliwung&lt;/span&gt; belom lagi masalah udara yang baunya minta ampun &lt;span class="hilite"&gt;di&lt;/span&gt; kali &lt;span class="hilite"&gt;ciliwung&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Penumpang :&lt;/strong&gt; ………. (*tetep masih gak kapok naek waterway, sembari kepanasan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Penumpang :&lt;/strong&gt; ………. (* buka jendela karena kepanasan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(berhembus angin sepoi2 dari jendela)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Penumpang :&lt;/strong&gt; MMMPPPPHHH………(*kebauan terus tutup idung sampe daerah karet dan gak  bisa napas)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Penumpang :&lt;/strong&gt; GUBRAGGGG&lt;img src="http://robotopbalz.blogsome.com/2007/06/06/water-way/%21" alt="" border="0" /&gt;! (*pingsan lagi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kalo naek busway kita bayar 3500 terus kita di kasih tiket, tapi mungkin kalo naek waterway kita bayar 1500 bukan di kasih tiket tapi &lt;span class="hilite"&gt;di&lt;/span&gt; kasih &lt;span class="caps"&gt;MASKER&lt;/span&gt;&lt;img src="http://robotopbalz.blogsome.com/2007/06/06/water-way/%21" alt="" border="0" /&gt; + &lt;span class="caps"&gt;PENGHARUM RUANGAN&lt;/span&gt;&lt;img src="http://robotopbalz.blogsome.com/2007/06/06/water-way/%21" alt="" border="0" /&gt;&lt;/span&gt; Wakakakaka…….. (*tertawa puas dengan kebodohan pemerintah kota)&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hah….(*menghela napas) itulah gambaran yang akan terjadi kalo nanti waterway di jakarta sudah beroprasi, yah walaupun dalam penggambaran gw terlalu berlebihan tapi setidaknya hal2 di atas itu bakalan terjadi. Hah….(*menghela napas) kalo2 &lt;span class="hilite"&gt;di&lt;/span&gt; pikir2 bodoh banget yah pemerintah kota &lt;span class="caps"&gt;DKI&lt;/span&gt;, setidaknya kalo mau bikin transport air benahin dulu lingkungan sekitarnya…. kayak bersihin sampah2 yang ada di sekelilingnya terus airnya &lt;span class="hilite"&gt;di&lt;/span&gt; jernihin. &lt;span class="caps"&gt;HAH&lt;/span&gt;….. &lt;span class="caps"&gt;EMANK&lt;/span&gt; dasar &lt;span class="caps"&gt;OON&lt;/span&gt;&lt;img src="http://robotopbalz.blogsome.com/2007/06/06/water-way/%21" alt="" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegayaan banget sih mau ngikutin italia dengan transportasi airnya. kalo di italia karena ngelewatin sungai Venice (*baca : Penice) maka transportasi airnya &lt;span class="hilite"&gt;di&lt;/span&gt; kenal dengan &lt;span class="caps"&gt;VENIZIA&lt;/span&gt;. kalo di jakarta karena ngelewatin sungai &lt;span class="hilite"&gt;Ciliwung&lt;/span&gt; maka transportasinya &lt;span class="hilite"&gt;di&lt;/span&gt; sebut &lt;span class="caps"&gt;CILIWUNGZIA &lt;/span&gt;Wakaka……. lucu banget sih tuh pemerintah kota &lt;span class="caps"&gt;DKI&lt;/span&gt;. kalo gak project buat ngambil duitnya doank alias korupsi apa coba tuh namanya……. Hah… payah udah pembangunan monorail gak jadi2 karena duitnya abis di korupsi, terus pembangunan busway tersendat sendat lagi2 karena duitnya abis &lt;span class="hilite"&gt;di&lt;/span&gt; korupsi, eh dia malah bikin pembangunan yang ngaco dan kebablasan (WATERWAY) Bodoh!!.&lt;br /&gt;http://robotopbalz.blogsome.com/2007/06/06/water-way/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18232206-6559559287983100502?l=kaliciliwung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/feeds/6559559287983100502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18232206&amp;postID=6559559287983100502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default/6559559287983100502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default/6559559287983100502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/2007/09/ciliwung-jadi-water-way.html' title='Ciliwung Jadi Water Way'/><author><name>ucokdm</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18232206.post-117111684212900428</id><published>2007-02-10T05:50:00.000-08:00</published><updated>2007-02-10T06:18:26.860-08:00</updated><title type='text'>Kali Ciliwung Menggenangi Jakarta</title><content type='html'>&lt;a href="http://images.google.co.id/images?q=tbn:v6C6-VlOKvx16M:http://www.suarapublik.org/Cetak/2005/Edisi_Januari/Page_12.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://images.google.co.id/images?q=tbn:v6C6-VlOKvx16M:http://www.suarapublik.org/Cetak/2005/Edisi_Januari/Page_12.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kali Ciliwung kembali memuntahkan air, seakan sebuah ritual 5 tahunan yang harus dilewati sebagai peringatan kepada Kota-kota yang dilewati, Bogor, Jakarta, Tangerang.  Bahwa kelestarian alam, aliran sungai meminta perhatian agar selalu dijaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tanggung-tanggung, pada tahun ini merupakan banjir yang paling parah selama kurang lebih 10 tahun terakhir di kawasan Jabodetabek.  Hampir seluruh kota Jakarta lumpuh karena banjir.  Proyek Busway yang baru diluncurkan 5 hari sebelumnya, praktis mandeg, tidak beroperasi hampir seminggu.  Bagaimana tidak, jalan yang melewati atau paling tidak berada dikawasan sungai, tergenang air setinggi lutut, dan bahkan hingga sebatas dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke-2 dan ke-3, hampir seluruh pejabat negara turun melihat langsung keadaan banjir di berapa kawasan terparah di Jakarta.  Presiden SBY, sempat turun berendam di banjir di kawasan Kampung Melayu yg salah satu terparah terkena bajir. Seakan menjadi sebuah konfirmasi buat tokoh-2 yang lain, pada hari berikutnya, beberapa tokoh politik dan artis tidak ketinggalan untuk ikut menyampaikan belasungkawa atas musibah yang dihadapi warga jakarta ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18232206-117111684212900428?l=kaliciliwung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/feeds/117111684212900428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18232206&amp;postID=117111684212900428' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default/117111684212900428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default/117111684212900428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/2007/02/kali-ciliwung-menggenangi-jakarta.html' title='Kali Ciliwung Menggenangi Jakarta'/><author><name>ucokdm</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18232206.post-113016439982885672</id><published>2005-10-24T07:28:00.000-07:00</published><updated>2005-10-24T07:38:04.426-07:00</updated><title type='text'>Orang Belanda Dulu Minum Air Cilliwung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.google.co.id/images?q=tbn:TKmMPuZ2U9wJ:http://www.tempointeraktif.com/hg/photostock/2005/03/28/s_IQRA3Batavia4_high_thumb.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px;" src="http://images.google.co.id/images?q=tbn:TKmMPuZ2U9wJ:http://www.tempointeraktif.com/hg/photostock/2005/03/28/s_IQRA3Batavia4_high_thumb.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA mungkin satu-satunya kota di Indonesia yang mempunyai paling banyak sungai, yang membelah-belah wilayahnya dari selatan ke utara. Menurut perhitungan secara kasar, paling tidak ada 6-7 sungai. Di arah barat terbentang Kali Angke, Kali Krukut, Kali Grogol. Di tengah-tengah kota mengalir Kali Ciliwung. Di bagian timur kita menemukan Kali Gunungsahari dan Kali Sunter. Ada lagi Kali Besar yang menampung air Kali Krukut di ujung barat Jalan Pancoran (Medan Glodok) selewat jembatan Toko Tiga, Jakarta Kota dan membawanya terus mengalir ke arah barat, untuk akhirnya membelok ke utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi anak sungai, terusan atau parit lebar yang menghubungkan aliran sungai yang satu dengan yang lain. Orang awam bisa pusing kalau mau menghitung atau menelusurinya satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempo doeloe jumlah itu lebih banyak lagi. Khususnya di bagian utara kota, yang oleh orang Belanda dinamakan beneden stad atau kota bawah, yakni daerah Mangga Besar ke arah utara. Kali Ciliwung yang mengalir lurus bagaikan garis mistar, membelok ke timur setibanya di seberang jalan Labu di Hayam Wuruk dan menumpahkan aimya ke Kali Tangki di sisi jalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran Ciliwung itu pun masih terus lagi ke utara, menyusuri sisi timur Medan Glodok dan baru membelok ke timur setelah melewati gedung bioskop Pelangi, yang kemudian menjadi gedung pertokoan Harco. Sebagian lagi menumpahkan air ke Kali Besar yang pada masa itu. membentang dari timur ke barat, menyusuri jalan Pancoran (di seberang Glodok Building sekarang) sampai melewati jembatan Toko Tiga yang disebutkan di atas. Bagian Kali Besar yang menyusuri jalan Pancoran kini sudah tidak ada lagi, mungkin telah menjadi riol tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiang ayah saya sering berceritera, bahwa semasa hidupnya sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, tepat di tengah-tengah jalan Kongsi Besar sepanjang jalur jalan yang kini menjadi lokasi kios-kios, pun dialiri sebuah sungai, Di masa remaja saya, kali di Kongsi Besar itu. sudah tidak ada. Hanya tinggal palang-palang pipa besi bergaris tengah kurang lebih 10 sentimeter, yang dulunya memagari kedua sisi sungai. Sungainya sendiri sudah menjadi lapangan tempat bermain anak-anak, terutama di sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1944-1945 (zaman jepang) palang-palang itu dibongkar jepang bersama dengan palang palang serupa yang memagari seluruh tepi Kali Ciliwung. Konon semua palang itu diangkut ke jepang, karena industri perang jepang pada masa itu kekurangan bahan baku besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali Ciliwung diperjual belikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Kali-kali di Jakarta mencatat rekor di masa kekuasaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC atau Kompeni di mulut rakyat). Orang Belanda pada masa itu sangat gemar menggali Kali-kali buatan yang mereka namakan gracht (jamak: grachten). Konon karena mereka rindu akan kota Amsterdam di negera asal mereka yang sampai kini masih terbelah-belah oleh banyak grachten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ada juga kali yang dibuat pihak swasta dengan seizin Kompeni, bukan atas dasar rasa rindu tadi, melainkan demi pertimbangan komersial-ekonomis. Kali-kali atau grachten itu menghubungkan aliran sungai-sungai alamiah yang satu dengan yang lain. Sungai-sungai itu. merupakan sarana utama bagi angkutan barang-barang dagangan. Banyak sampan pengangkut barang-barang itu ‘potong kompas’ agar lebih cepat tiba di tempat tujuan. Dalam hal demikian, mereka memasuki kali-kali buatan tadi dan oleh pemiliknya (pembuat kali-kali itu) sampan-sampan tersebut diharuskan membayar tol. Tidak berbeda dengan keadaan sekarang, kalau kendaraan bermotor melewati jalan tol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kali Ciliwung yang lurus dari Harmoni ke utara, dulunya kali swasta dengan aturan bayar tol kalau melaluinya. Kali yang oleh orang Belanda dinamakan Molenvliet itu dibuat oleh kepala warga Cina (kapitein der Chinezen) di Betawi, Phoa Bing Ham. Orang Belanda menamakannya Bingam. Pada tahun 1648 Bingam mendapat izin dari Kompeni untuk membuat Kali tersebut dan memungut tol dari sampan-sampan yang lewat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1654 Molenvliet diambil alih Kompeni dengan harga 1.000 real. Bingam, melepaskannya karena eksploatasinya tidak lagi menguntungkan, sehubungan dengan penggalian terusan-terusan baru oleh Kompeni sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pecah Perang Dunia 11, sejumlah jalan tertentu di bagian utara kota dikenal sebagai Amsterdamschegracht (kini jalan Tongkol), Leeuwinnegracht (kini jalan Cengkeh), Groenegracht (kini Jalan Kali Besar Timur Ill) dan sebagamya. Hal itu menunjukkan bahwa pada zaman Kompeni, di sana terbentang Kali-kali buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancoran: Pemasok Air Minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping berfungsi sebagai sarana penanggulangan banjir dan angkutan barang, sungai-sungai itu “tempo doeloe” juga menjadi sumber air minum utama bagi warga kota. Sampai abad ke-19 air Kali Ciliwung dipergunakan oleh orang-orang Belanda di Betawi sebagai air minum. Air kali itu mula-mula ditampung (dalam semacam waduk waterplaats atau aquada). Lokasi waduk itu semula dibangun dekat benteng Jacatra di bagian utara kota kemudian dipindahkan ke tepi Molenvliet sekitar daerah Medan Glodok yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduk air itu dilengkapi dengan pancuran-pancuran kayu yang mengucurkan air dari ketinggian kira-kira 10 kaki (kurang lebih 3 m). Kemudian daerah sekita lokasi waduk dinamakan Pancuran, yang di lidah orang Betawi menjadi Pancoran. Dari sana air diangkut dengan perahu ole para penjual air (waterboeren) dan dijajakan ke kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya pengertian masyarakat tentang higina dan kesehatan pada masa itu masih sangat terbatas. Air Kali Ciliwung itu diminum begitu saja tanpa proses penjernihan seperti yang sekarang dijalankan oleh PAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sempat menimbulkan problem kesehatan yang serius pada masyarakat Belanda. Pada abad ke- 18 dan dasa warsa pertama abad ke-19 itu, penyakit disentri, typhus, bahkan juga kolera, merajalela di antara mereka. Sebagai penyebabnya disebut air Kali Ciliwung tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Dr. de Haan mengetengahkan bahwa tentang hal terakhir itu sempat timbul perbedaan pendapat di kalangan para ‘ahli’ Belanda. Ada ‘ahli’ yang menyatakan pada tahun 1648 bahwa air Ciliwung sangat baik (voortreffelljk). Mungkin memang demikian halnya selagi daerah-daerah di pinggiran kota, di arah hulu kali, masih penuh hutan tanpa penghuni. Ketika kemudian pembukaan hutan-hutan dan penggarapan tanah semakin meluas, dan pemukiman makin meningkat, air Kali pun semakin tercemar. Pada tahun 1689 seorang ‘ahli’ lain mencatat bahwa air yang keluar dari pancuran waduk di Pancoran sangat keruh, balikan berlumpur di musim hujan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1685 seorang ‘ahli’ lain lagi tegas-tegas mengatakan bahwa di dalam air itu terdapat binatang-binatang halus’ yang tak tampak mata (onzichtbare beesjes). ‘Binatang-binatang halus’ yang tentu tak lain dari kuman-kuman itu akan mati kalau. air dimasak sebelum diminum, seperti yang biasa dilakukan orang-orang Hindoestanners (yang dimaksud tentu orang-orang India) dan orang-orang ‘pribumi’ lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pada hakikatnya suatu petunjuk yang jelas bahwa kesehatan dapat terpelihara lebih baik jika orang minum air matang. Lebih-lebih karena pada tahun 1661 sudah ada laporan dari Banjarmasin bahwa orang-orang Belanda di sana menganut kebiasaan mengendapkan air minumnya satu hari dan kemudian memasaknya. Namun demikian orang-orang Belanda di Betawi masih belum yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh dan Tempayan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu seorang dokter bernama Thunberg menemukan kenyataan, bahwa orang-orang Cina di Betawi yang sehari-hari biasa minum teh, ternyata jarang atau tidak pernah dihinggapi penyakit-penyakit tersebut di atas. Thunberg berkesimpulan bahwa pencegahan penyakit itu bukan soal pemasakan air, tetapi khasiat daun teh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ‘ahli’ terkemuka lebih hebat lagi pernyataannya. Air Ciliwung pada hakikatnya tidak seburuk yang dibayangkan orang, asal bisa melupakan sama sekali segala yang biasa dilemparkan ke dalam kali itu. Bayangkan, orang dianjurkan untuk menyingkirkan dari ingatan bahwa Ciliwung antara lain berfungsi sebagai jamban umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, tidak pernah terlintas dalam pikiran orang-orang Belanda di Betawi untuk menggunakan sumur sebagai sumber air, minum. Padahal waktu itu sudah banyak rumah tinggal yang memiliki sumur. Air sumur pasti lebih jernih dan lebih bebas dari segala macam pencemaran daripada air kali, asalkan cara pembuatannya tepat dan seterusnya terpelihara dengan baik. Tetapi sumur yang sekaligus juga menampung air hujan, pada umumnya hanya dipergunakan untuk berbagai keperluan dapur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun, akhirnya disadari juga bahwa kondisi air minum berperan penting dalam pemeliharaan kesehatan. Pada hakikatnya antara abad ke-17 dan ke-19 sudah ada usaha-usaha menjernihkan air kali untuk air minum. Caranya sederhana saja. Air itu diendapkan dalam beberapa tempayan (matravan). Mulamula air diendapkan dalam tempayan pertama, lalu dipindatikan ke dalam tempayan kedua, ketiga dan seterusnya. Ketika masuk ke dalam tempayan terakhir, air sudah jernih. Tetapi apakah sekaligus sudah bebas kuman, masih merupakan tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1811, ketika pecah perang antara negeri Belanda dan Inggris, diperkirakan bahwa tentara Inggris akan segera mendarat di Betawi. Pemerintah kota Betawi mengeluarkan perintah agar warga kota menghancurkan semua tempayan mereka, kecuali yang sangat diperlukan saja. Maksudnya supaya tentara Inggris tidak memperoleh. air minum bila mendarat di Betawi. Dengan demikian mereka akan terpaksa minum air kali dengan akibat akan kena sakit perut. Sejarah membuktikan bahwa siasat itu tidak efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penjernihan lain ialah dengan menyaring air di dalam leksteen, yakni semacam kendi dari keramik berbentuk tabung dengan keran di bawahnya. Di dalamnya terdapat ‘kendi tabung’ lagi yang lebih kecil, dari sejenis batu karang yang tembus air (poreus). Air dimasukkan ke tabung-dalam itu. Di sana air itu mengendap dan merembes ke tabung-luar yang lebih besar. Kalau keran dibuka, air yang mengucur dari sana jernih lagi sejuk rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan tempayan untuk mengendapkan air minum, sekaligus tempat menyimpan persediaan air pun sudah tidak asing lagi bagi rakyat sebelum orang Barat ke sini. Kendi air juga sudah umum dipergunakan rakyat kita di masa ‘tempo doeloe’ sekali. Bedanya kendi dan tempayan-tempayan kita terbuat dari tanah liat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikirim air dari Bogor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ada juga orang-orang Belanda Betawi yang tampaknya enggan minum air kali dalam keadaan yang sudah dijernihkan sekali pun. Buku Dr. de Haan menyebutkan bahwa sebagian orang Belanda biasa minum Seltzelwater, yakni air impor yang di masa itu sangat banyak didatangkan dari luar negri ke Betawi dengan nama ayer Belanda. Harganya mahal sekali: satu ringgit (rijksdaalder atau dua ratus lima puluh sen) per guci (kruik) kecil. Sudah barang tentu hanya orang-orang kayaraya saja yang kuat membayarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Belanda yang cukup kuat keuangannya mendatangkan air minum dari daerah Bogor (1773), yakni air sumber yang jernih. Konon gubernur jenderal Belanda pada masa itu juga menerima kiriman air sumber dari Lontho (Lontar, di belakang Bogor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan dasa warsa ke-2 abad ke-20 ini, penggunaan air sumber untuk minum juga populer di kalangan rakyat Betawi. Semasa saya masili bocah yang suka berlarian di jalan dalam celana monyet, kampung tempat tinggal keluarga saya terkadang dikunjungi ‘gerobak tangki’ yang menjajakan air sumber dari Kampung Lima (entah di mana pula letak kampung itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air itu dijual per kaleng minyak tanah. Ibu saya selalu membeli untuk menambah persediaan air minum kami (air hujan). Setiap kali turun hujan deras, almarhum ayah saya selalu menampung dan menyimpan sekaligus mengendapkan dalam sejumlah tempayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Tanu Trh diambil buku BATAVIA “Kisah Jakarta Tempo Doeloe” terbitan Gramedia dalam Intisari, bulan Juni 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Media Indonesia, Selasa, 3 September 1996.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18232206-113016439982885672?l=kaliciliwung.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/feeds/113016439982885672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18232206&amp;postID=113016439982885672' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default/113016439982885672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18232206/posts/default/113016439982885672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kaliciliwung.blogspot.com/2005/10/orang-belanda-dulu-minum-air-cilliwung.html' title='Orang Belanda Dulu Minum Air Cilliwung'/><author><name>ucokdm</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
